Situs Berita Jurnalistik UNTIRTA

Sewindu Pesona Budaya Banten

In berita budaya, straight-news on November 6, 2008 at 2:19 pm

Serang, Jurnal Komunika

Dalam rangka Hari Jadi Banten yang ke-8, Pemerintah Provinsi Banten dan Disbudpar (Dinas Budaya dan Pariwisata) Banten mengadakan Banten Ekspo 2008 di Serang (5/11). Acara ini dibuka dengan Pawai Budaya Banten dengan peserta dari tujuh daerah dari Propinsi Banten. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 16.00 hingga 18.00 WIB.

Dalam atraksi dari pawai budaya ini, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah memberikan sambutannya untuk membuka pameran Banten Ekspo 2008. Beliau mengatakan bahwa “ Potensi yang dimiliki Banten merupakan tanggung jawab bersama untuk kita kembangkan sebagai kebanggaan.”

Acara yang mengusung tema “Sewindu Pesona Budaya Banten” ini menampilkan berbagai kesenian khas dari dari daerah masih-masing peserta. Kabupaten Tangerang menampilkan kesenian Cokin, Kabupaten Serang menampilkan kesenian Bubuaayaan dan Jajangkungan, Pandeglang menampilkan kesenian Beunghar Kadu, Lebak menampilkan kesenian Angklung Buhun, Cilegon menampilkan kesenian Tari Tangkil, dan Kota Tangerang menampilkan Barongsai.

Total peserta yang mengikuti Pawai Budaya Banten ini adalah tujuh daerah, dengan 60 orang yang melakukan atraksi budaya dari daerah masing-masing.

Pawai dimulai dari Alun-alun Serang dan diakhiri di Alun-alun Barat Serang. Berdasarkan dari keterangan panitia, acara ini merupakan acara rutin tahunan yang sering dilakukan oleh Pemprov Banten bekerjasama dengan Disbudpar. Kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan seni budaya Banten kepada masyarakat luas.

Peserta pawai budaya dari Pandeglang, Ramdhani, menjelaskan bahwa persiapan untuk pementasan ini hanya beberapa hari karena memang sebelumnya mereka sering melakukan latihan. Mereka berasal dari sanggar seni yang ada di Pandeglang yang merupakan binaan dari Disbudpar.

Andri, peserta dari Serang juga menyatakan hal senada. “Peserta dari Kota Serang merupakan gabungan dari 6 kecamatan yaitu Kasemen, Taktakan, Cipocok, Walantaka dan Kota Serang. Dan persiapannya pun cuma memerlukan dua kali latihan karena kita hanya tinggal menggabungkan antara daerah yang satu dengan yang lain,” jelas Andri (30)

Kesenian yang ditampilakan oleh masing-masing daerah ternyata bukan hanya sebuah pertunjukan kesenian begitu saja. Namun dalam satu kesenian yang disajikan memberikan satu pesan. Seperti dalam kesenian Angklung Buhun dari Lebak, memiliki arti yang tersimpan bahwa angklung merupakan simbolisasi dari masyarakat yang agraris.

Pandeglang yang menampilkan kesenian Beunghar kadu memberikan pesan bahwa, dengan daun-daun duren yang sudah kering, yang merupakan simbol bahwa pandeglang merupakan daerah penghasil durian yang tak pernah habis.  (Erni K)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: